Sabtu, 12 November 2011

Pembuatan Pupuk Kompos (Kompos Jerami dan Bokhasi)

Peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian telah melahirkan petani yang sangat tergantung pada pupuk kimia. Di lain pihak, penggunaan lahan secara terus menerus berakibat pada penurunan bahan organik tanah dan bahkan sebagian besar lahan pertanian mengandung bahan organik rendah (< 2 %), padahal kandungan yang ideal adalah > 3 %. Tanah dengan kandungan bahan organik rendah akan berkurang kemampuannya dalam mengikat pupuk kimia, sehingga efektivitas dan efisiensinya menurun akibat pencucian dan fiksasi. Perbaikan kesuburan tanah dan peningkatan bahan organik tanah dapat dilakukan melalui penambahan bahan organik atau kompos. Namun demikian, kandungan hara pupuk organik tergolong rendah dan sifatnya slow release, sehingga diperlukan dalam jumlah yang banyak.
Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan/atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Secara umum, manfaat pupuk organik adalah : memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, meningkatkan daya simpan dan daya serap air, memperbaiki kondisi biologi dan kimia tanah, memperkaya unsur hara makro dan mikro serta tidak mencemari lingkungan dan aman bagi manusia.
Limbah pertanian yang dapat dijadikan sumber pupuk organik adalah jerami padi, sekam/arang sekam, brangkasan kacang tanah dan kedelai, daun dan batang jagung, serbuk gergaji, sampah kota serta kotoran ternak (sapi, kerbau, domba, kambing, ayam). Kandungan hara kotoran ternak dan limbah pertanian sangat beragam, dan begitu juga perbandingan antara karbon dan nitrogen (C/N ratio). Bahan organik yang optimal untuk pembuatan kompos atau pupuk organik secara aerobik memiliki C/N ratio 25-30. Kandungan hara kotoran ternak dan limbah pertanian
II. BIOAKTIVATOR (DEKOMPOSER)
Perombakan bahan organik secara alami membutuhkan waktu 3-4 bulan, sehingga upaya pelestarian lahan pertanian mengalami hambatan, apalagi dihadapkan dengan masa tanam yang mendesak untuk menghasilkan produksi tinggi. Residu bahan organik sulit dikonversi menjadi bentuk yang lebih berdayaguna karena dergradasi lignin merupakan pembatas bagi kecepatan dan efisiensi dekomposisi. Dengan demikian diperlukan upaya untuk mempercepat perombakan lignin dan selulosa dengan berbagai dekomposer atau bioaktivator.
Saat ini sudah tersedia berbagai jenis dekomposer sehingga peluang usaha pembuatan pupuk organik terbuka luas. Penggunaan mikroba dekomposer dapat dilihat dari efektivitas dan efisiensi, mutu kompos, biaya dan kemudahan aplikasinya. Karakteristik dan dosis mikroba dekomposer yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik atau kompos adalah sebagai berikut :
- Biodec : Merupakan konsersia mikroba perombak selulosa dan lignin dengan fungsi metabolik yang komplementer, merombak dan mengubah residu organik menjadi bahan organik tanah dan menyuburkan tanah. Penggunaan Biodec untuk setiap ton/m3 bahan adalah 2,5 kg.
- Promi : Formula mikroba unggul, pemacu pertumbuhan tanaman, pelarut hara terikat tanah dan pengendali penyakit tanaman. Bahan aktif Promi adalah mikroba Trichoderma harzianum, T. pseudokoningii dan Aspergillus sp. Penggunaan Promi untuk setiap ton/m3 bahan adalah 1 kg.
- M-Dec : Mikroba mempercepat pengomposan, alelopati serta menekan perkembangan penyakit, larva insek dan biji gulma. Bahan aktif M-Dec adalah mikroba Trichoderma harzianum, T. pseudokoningii, Aspergillus sp dan Trametes. Penggunaan M-Dec untuk setiap ton/m3 bahan adalah 1 kg.
- Orlitani : Formula bioaktivator dengan bahan aktif Trichoderma harzianum dan T. pseudokoningii. Manfaat kompos dengan Orlitani dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sampai 50 % dan meningkatkan hasil panen 10-20 %. Penggunaan Orlitani untuk setiap ton/m3 bahan adalah 5 kg.
- Orgadec : Dekomposer yang memiliki kemampuan menurunkan C/N ratio secara cepat dan bersifat antagonis terhadap beberapa jenis penyakit akar. Mengandung mikroba Trichoderma pseudokoningii dan Cytophaga sp yang memiliki kemampuan tinggi dalam penghancur lignin dan selulosa secara bersamaan. Penggunaan Orgadec untuk setiap ton/m3 bahan adalah 5 kg.
- EM-4 : Dekomposer yang mengandung bakteri fotosintesis, bakteri asam laktat, Actinomycetes, ragi dan jamur fermentasi. EM-4 merupakan cairan berbau sedap dengan rasa asam manis dengan pH < 3,5. Penggunaan EM-4 untuk setiap ton/m3 bahan adalah 1 liter.
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa dekomposer (M-Dec, Orgadec, Probion, MOL-pepaya, MOL-bambu) mampu menurunkan C/N ratio jerami sekitar 25:1 setelah dua minggu masa inkubasi, namun kematangan dan stabilitas kompos baru dicapai setelah minggu ke-5 dengan C/N ratio 11:1 – 16:1.
III. TEKNIS PEMBUATAN
1. Kompos Jerami
Bahan dan peralatan yang digunakan terdiri dari jerami padi, dekomposer, ember, tali, bambu, plastik hitam dan parang/pisau. Tahapan pembuatan kompos jerami padi adalah sebagai berikut :
- Larutkan dekomposer sesuai dosis dalam 250 liter air, lalu aduk sampai homogen.
- Buat tumpukan jerami padi secara berlapis dengan ukuran 1m x 1m x 1m.
- Setiap lapis (20 cm) disiram dengan larutan dekomposer 50 liter secara merata, dan begitu seterusnya hingga mencapai ketinggian 1 m.
- Padatkan setiap lapisan jerami dengan cara diinjak-injak.
- Setelah selesai tutup dengan plastik hitam, lalu diikat dengan tali.
- Tumpukan jerami dibiarkan 2 – 4 minggu.
- Pengomposan berjalan baik apabila terjadi penurunan tinggi tumpukan, jika dipegang terasa panas, tidak berbau menyengat, tidak kering dan jerami mulai melunak.
2. Bokashi Jerami
Bahan dan peralatan yang digunakan terdiri dari jerami padi yang dicacah sebanyak 800 kg, sekam 150 kg, dedak 50 kg, dekomposer, air secukupnya, ember, plastik hitam, cangkul dan sekop. Tahapan pembuatan bokashi jerami adalah sebagai berikut :
- Larutkan dekomposer dalam 250-300 liter air.
- Jerami, sekam dan dedak dicampur secara merata, kemudian disiram dengan larutan dekomposer yang telah disiapkan.
- Penyiraman dilakukan perlahan-lahan sampai kandungan air adonannya mencapai 30%.
- Selanjutnya adonan di hamparkan setinggi 30-40 cm di tempat yang kering/diatas lantai.
- Tutup adonan dengan palstik hitam atau terpal.
- Selama fermentasi berlangsung, suhu tetap dijaga 40–50 derajat C.
- Jika suhu melebihi 50 derajat C, bukalah penutupnya, kemudian dibalik atau diaduk agar udara masuk, dan selanjutnya ditutup kembali.
- Lama fermentasi berkisar antara 3-4 minggu.
- Bokashi telah jadi ditandai dengan timbul bau sedap dan muncul lapisan jamur putih serta tidak panas lagi.
3. Bokashi Kohe
Bahan yang digunakan terdiri dari kotoran sapi 850 kg, abu dapur 100 kg, serbuk gergaji 50 kg, kaptan 20 kg, probion 2,5 kg, pupuk SP-36 2,5 kg dan air 60 %. Selanjutnya peralatan meliputi : sekop, cangkul, garpu dan tempat pembuatan. Tahapan pembuatan bokashi kohe adalah sebagai berikut :
- Siapkan tempat, alat dan bahan yang digunakan.
- Larutkan dekomposer probion dan pupuk SP-36 dalam 250 liter air.
- Campurkan kotoran sapi dengan bahan lainnya dan aduk secara merata, kemudian siramkan larutan dekomposer yang telah disiapkan, lalu tutup dengan palstik hitam atau terpal plastik.
- Lama fermentasi atau pengomposan 3-4 minggu, dimana setiap minggu dilakukan pembalikan.
- Proses pengomposan berjalan baik apabila suhu bahan meningkat.
- Setelah diperam 3-4 minggu, pupuk telah menjadi matang dengan warna coklat kehitaman, bertekstur remah dan tidak berbau.
- Lakukan pengayakan untuk mendapatkan ukuran dan bentuk yang seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan.
- Pupuk organik siap dikemas atau diaplikasikan ke lahan sebagai pupuk dasar.
Peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian telah melahirkan petani yang sangat tergantung pada pupuk kimia. Di lain pihak, penggunaan lahan secara terus menerus berakibat pada penurunan bahan organik tanah dan bahkan sebagian besar lahan pertanian mengandung bahan organik rendah (< 2 %), padahal kandungan yang ideal adalah > 3 %. Tanah dengan kandungan bahan organik rendah akan berkurang kemampuannya dalam mengikat pupuk kimia, sehingga efektivitas dan efisiensinya menurun akibat pencucian dan fiksasi. Perbaikan kesuburan tanah dan peningkatan bahan organik tanah dapat dilakukan melalui penambahan bahan organik atau kompos. Namun demikian, kandungan hara pupuk organik tergolong rendah dan sifatnya slow release, sehingga diperlukan dalam jumlah yang banyak.      Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan/atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Secara umum, manfaat pupuk organik adalah : memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, meningkatkan daya simpan dan daya serap air, memperbaiki kondisi biologi dan kimia tanah, memperkaya unsur hara makro dan mikro serta tidak mencemari lingkungan dan aman bagi manusia.      Limbah pertanian yang dapat dijadikan sumber pupuk organik adalah jerami padi, sekam/arang sekam, brangkasan kacang tanah dan kedelai, daun dan batang jagung, serbuk gergaji, sampah kota serta kotoran ternak (sapi, kerbau, domba, kambing, ayam). Kandungan hara kotoran ternak dan limbah pertanian sangat beragam, dan begitu juga perbandingan antara karbon dan nitrogen (C/N ratio). Bahan organik yang optimal untuk pembuatan kompos atau pupuk organik secara aerobik memiliki C/N ratio 25-30. Kandungan hara kotoran ternak dan limbah pertanian
II. BIOAKTIVATOR (DEKOMPOSER)
Perombakan bahan organik secara alami membutuhkan waktu 3-4 bulan, sehingga upaya pelestarian lahan pertanian mengalami hambatan, apalagi dihadapkan dengan masa tanam yang mendesak untuk menghasilkan produksi tinggi. Residu bahan organik sulit dikonversi menjadi bentuk yang lebih berdayaguna karena dergradasi lignin merupakan pembatas bagi kecepatan dan efisiensi dekomposisi. Dengan demikian diperlukan upaya untuk mempercepat perombakan lignin dan selulosa dengan berbagai dekomposer atau bioaktivator. Saat ini sudah tersedia berbagai jenis dekomposer sehingga peluang usaha pembuatan pupuk organik terbuka luas. Penggunaan mikroba dekomposer dapat dilihat dari efektivitas dan efisiensi, mutu kompos, biaya dan kemudahan aplikasinya. Karakteristik dan dosis mikroba dekomposer yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik atau kompos adalah sebagai berikut :- Biodec : Merupakan konsersia mikroba perombak selulosa dan lignin dengan fungsi metabolik yang komplementer, merombak dan mengubah residu organik menjadi bahan organik tanah dan menyuburkan tanah. Penggunaan Biodec untuk setiap ton/m3 bahan adalah 2,5 kg.- Promi : Formula mikroba unggul, pemacu pertumbuhan tanaman, pelarut hara terikat tanah dan pengendali penyakit tanaman. Bahan aktif Promi adalah mikroba Trichoderma harzianum, T. pseudokoningii dan Aspergillus sp. Penggunaan Promi untuk setiap ton/m3 bahan adalah 1 kg.- M-Dec : Mikroba mempercepat pengomposan, alelopati serta menekan perkembangan penyakit, larva insek dan biji gulma. Bahan aktif M-Dec adalah mikroba Trichoderma harzianum, T. pseudokoningii, Aspergillus sp dan Trametes. Penggunaan M-Dec untuk setiap ton/m3 bahan adalah 1 kg.- Orlitani : Formula bioaktivator dengan bahan aktif Trichoderma harzianum dan T. pseudokoningii. Manfaat kompos dengan Orlitani dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sampai 50 % dan meningkatkan hasil panen 10-20 %. Penggunaan Orlitani untuk setiap ton/m3 bahan adalah 5 kg.- Orgadec : Dekomposer yang memiliki kemampuan menurunkan C/N ratio secara cepat dan bersifat antagonis terhadap beberapa jenis penyakit akar. Mengandung mikroba Trichoderma pseudokoningii dan Cytophaga sp yang memiliki kemampuan tinggi dalam penghancur lignin dan selulosa secara bersamaan. Penggunaan Orgadec untuk setiap ton/m3 bahan adalah 5 kg.- EM-4 : Dekomposer yang mengandung bakteri fotosintesis, bakteri asam laktat, Actinomycetes, ragi dan jamur fermentasi. EM-4 merupakan cairan berbau sedap dengan rasa asam manis dengan pH < 3,5. Penggunaan EM-4 untuk setiap ton/m3 bahan adalah 1 liter.      Berdasarkan hasil penelitian, beberapa dekomposer (M-Dec, Orgadec, Probion, MOL-pepaya, MOL-bambu) mampu menurunkan C/N ratio jerami sekitar 25:1 setelah dua minggu masa inkubasi, namun kematangan dan stabilitas kompos baru dicapai setelah minggu ke-5 dengan C/N ratio 11:1 – 16:1.
III. TEKNIS PEMBUATAN
1. Kompos Jerami      Bahan dan peralatan yang digunakan terdiri dari jerami padi, dekomposer, ember, tali, bambu, plastik hitam dan parang/pisau. Tahapan pembuatan kompos jerami padi adalah sebagai berikut :- Larutkan dekomposer sesuai dosis dalam 250 liter air, lalu aduk sampai homogen.- Buat tumpukan jerami padi secara berlapis dengan ukuran 1m x 1m x 1m.- Setiap lapis (20 cm) disiram dengan larutan dekomposer 50 liter secara merata, dan begitu seterusnya hingga mencapai ketinggian 1 m.- Padatkan setiap lapisan jerami dengan cara diinjak-injak.- Setelah selesai tutup dengan plastik hitam, lalu diikat dengan tali.- Tumpukan jerami dibiarkan 2 – 4 minggu.- Pengomposan berjalan baik apabila terjadi penurunan tinggi tumpukan, jika dipegang terasa panas, tidak berbau menyengat, tidak kering dan jerami mulai melunak. 2. Bokashi Jerami      Bahan dan peralatan yang digunakan terdiri dari jerami padi yang dicacah sebanyak 800 kg, sekam 150 kg, dedak 50 kg, dekomposer, air secukupnya, ember, plastik hitam, cangkul dan sekop. Tahapan pembuatan bokashi jerami adalah sebagai berikut :- Larutkan dekomposer dalam 250-300 liter air.- Jerami, sekam dan dedak dicampur secara merata, kemudian disiram dengan larutan dekomposer yang telah disiapkan.- Penyiraman dilakukan perlahan-lahan sampai kandungan air adonannya mencapai 30%.- Selanjutnya adonan di hamparkan setinggi 30-40 cm di tempat yang kering/diatas lantai.- Tutup adonan dengan palstik hitam atau terpal.- Selama fermentasi berlangsung, suhu tetap dijaga 40–50 derajat C.- Jika suhu melebihi 50 derajat C, bukalah penutupnya, kemudian dibalik atau diaduk agar udara masuk, dan selanjutnya ditutup kembali.- Lama fermentasi berkisar antara 3-4 minggu.- Bokashi telah jadi ditandai dengan timbul bau sedap dan muncul lapisan jamur putih serta tidak panas lagi.
3. Bokashi Kohe      Bahan yang digunakan terdiri dari kotoran sapi 850 kg, abu dapur 100 kg, serbuk gergaji 50 kg, kaptan 20 kg, probion 2,5 kg, pupuk SP-36 2,5 kg dan air 60 %. Selanjutnya peralatan meliputi : sekop, cangkul, garpu dan tempat pembuatan. Tahapan pembuatan bokashi kohe adalah sebagai berikut :- Siapkan tempat, alat dan bahan yang digunakan.- Larutkan dekomposer probion dan pupuk SP-36 dalam 250 liter air.- Campurkan kotoran sapi dengan bahan lainnya dan aduk secara merata, kemudian siramkan larutan dekomposer yang telah disiapkan, lalu tutup dengan palstik hitam atau terpal plastik.- Lama fermentasi atau pengomposan 3-4 minggu, dimana setiap minggu dilakukan pembalikan.- Proses pengomposan berjalan baik apabila suhu bahan meningkat.- Setelah diperam 3-4 minggu, pupuk telah menjadi matang dengan warna coklat kehitaman, bertekstur remah dan tidak berbau.- Lakukan pengayakan untuk mendapatkan ukuran dan bentuk yang seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan.- Pupuk organik siap dikemas atau diaplikasikan ke lahan sebagai pupuk dasar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar