Sabtu, 12 November 2011

Pupuk Kompos Solusi Atasi Persoalan Sampah

SUKAMARA--BN: SAMPAH menjadi persoa­lan serius di semua daerah, baik yang sudah ma­ju maupun baru ber­kem­bang. Penanganan sampah yang sa­lah bisa berakibat fatal, khusus­nya bagi lingkungan.
Faktor inilah yang disadari Fah­ru Rozi, seorang aktivis ling­kungan di Sukamara, Kabu­pa­ten Sukamara...
Berbekal keahlian yang diper­oleh saat kuliah di salah sa­tu uni­versitas di Yogyakarta, Dae­rah Istimewa Yogyakarta, be­berapa waktu lalu, Fahru pun mulai mengembangkan pengolahan sampah organik.
Dia mengolah sampah de­dau­­nan dan kotoran hewan men­­jadi pupuk kompos.
Selain bisa menjaga lingku­ngan, hasil olahan sampah or­ganik itu diharapkan berman­faat bagi masyarakat. Khusus­nya dalam meningkatkan jumlah produksi tanaman.
Dia jua berharap, pengolahan sam­pah organik ini menjadi sa­lah satu solusi untuk menga­ta­si masalah sampah di masa men­datang, saat Kabupaten Su­kamara siap menjadi kota be­sar.
“Kami memulai program untuk me­ngenalkan dan mengo­lah kom­pos ini pada 2010. Di­harapkan hal ini bisa dijadi­kan percontohan bagi warga Su­kamara dalam menghadapi lon­jakan sampah di masa menda­tang. Dengan mengenalkan pro­ses pembuatan kompos ini, ka­mi berharap ketergantungan pe­tani terhadap pupuk kimia bi­sa di kurangi,” tutur Fahru yang juga aktivis sekaligus ins­truk­tur pengolahan kompos da­ri OF-UK.
Dia mengungkapkan, sampah yang diolah menjadi kompos berasal dari sisa sayuran busuk di pasar, kotoran hewan, dan sampah dedaunan, ki­ri­man dari kantor lingkungan hi­dup (KLH). Setiap hari Fahru bi­sa mengolah dan melakukan frag­mentasi sampah organik men­­jadi pupuk kompos hingga 3,5 meter kubik.

Pelajaran muatan lokal
Karena ketekunannya dalam mem­berikan penyuluhan, pela­ja­ran pengolahan kompos pun menjadi salah satu satu pelajaran muatan lokal di Sekolah Me­nengah Kejuruan (SMK) Per­tanian Sukamara.
Selain itu, ketergantungan masyarakat terhadap pupuk ki­mia secara perlahan sudah mulai berkurang.
Sebagai daerah percon­tohan, Fahru melakukan pendampi­ngan pembuatan pukuk orga­nik di empat desa, yaitu Sungai Pa­sir, Natai Sedawak, Pudu dan Kar­tamualia.
Rencananya, apabila proyek pembuatan pupuk itu tidak diperpanjang oleh LSM tempatnya bekerja, lahan percontohan yang dibuat akan diserahkan ke­­pada Pemerintah Kabupaten Sukamara. Diharapkan suatu saat lahan percontohan itu bisa menjadi kawasan agrowisata sekaligus percontohan pengolahan kompos. (B-3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar